Sekupas Tulisan

  • Home
  • Categories
  • _Ekonomi
  • _Keuangan
  • _Ngerjain Soal
  • _Uncategorized
  • Site Map
  • Privacy Policy
  • T & C
  • Disclaimer

Sedikit gabut, kali ini mau nyoba ngerjain, mungkin beberapa soal ekonomi dari situs Brainly, post ini satu soal dulu, dan mungkin kerjainnya spontan aja sesuai pengetahuan, langsung aja.. jadi soalnya memang tipe moderat buat anak sma, kira-kira seperti itu, saya cari yang sesuai aja...

Sumber : Brainly.co.id

Ini yang pertama, jadi ada matriks ya, data terkait satu bundle hmm kebutuhan pokok dari tahun 2017 sampai 2019, yaitu terkait harganya, dan soalnya nyuruh nentuin tingkat inflasi tahun 2019 dengan tahun dasar yaitu 2018, kemudian golongan tingkat keparahan inflasi tersebut, serta alasannya.. cuzz aja tiap bagian, ..

a. Ini sisa masukin ke rumus aja, jadi rumusnya buat nyari tingkat inflasi itu seperti ini:


Jadi, ini salah satu cara buat nyari laju inflasi, mungkin ada banyak cara, tapi yang sering dipakai di sekolah itu salah satunya yg rumus yang diatas, cukup sederhana, tapi sebelumnya, harus tau dulu indeks harga itu apa, jadi indeks harga itu adalah suatu pengukuran dari harga rata-rata barang atau jasa yang dikonsumsi dalam satu periode atau satu tahun, jadi memang sangat berhubungan dengan tingkat inflasi, karena dengan indeks harga tadi, kita bisa lihat perubahan yang terjadi pada harga dari suatu kumpulan barang atau jasa secara nasional setiap tahunnya. 

Untuk mengukur nilai perubahan harga tersebut, dibutuhkan tahun dasar, tahun dasar ini berfungsi sebagai dasar perbandingan atas perhitugan inflasi tiap tahunnya, biasanya tahun dasar ini menggunakan data maksimalnya 10 tahun terakhir, biar data yang ada itu memang bisa menggambarkan keadaan harga sesunggunya, wajar kan yaa, kalo kita ngitung inflasi tahun 2020 tapi dengan menggunakan tahun dasar tahun 2000 itu pasti ga valid lagi, karena kondisi ekonomi sudah banyak yang berubah, termasuk tingkat inflasinya.. Jadi buat tahun 2020, minimal kita gunakan tahun dasar 2010 atau diatas itu lebih bagus lagi, karena hitungan perubahan harganya akan lebih valid.

Ke soal lagi, buat menghitung indeks harga konsumen atau IHK caranya tinggal menjumlahkan total harga seluruh barang tiap tahunnya. Jadi, karena kita akan cari tingkat inflasi di tahun 2019, dengan tahun dasar 2018, maka yang kita jumlahkan atau cari nilai totalnya hanya harga di tahun 2019 dan 2018 saja.

IHK 2019    = Rp (8.000 + 15.000 + 10.600 ) = Rp33.600 > sebagai tahun n (yang dicari nilainya)
IHK 2018    = Rp (8.000 + 13.000 + 10.300 ) = Rp31.300 > sebagai tahun o / dasar

Tingkat inflasi kita langsung masuk ke rumus pertama tadi, jadi..

Laju Inflasi      = (33.600 - 31.300 ) / 31.300 x 100%
                          = 7,45 %

Jadi kita dapat laju inflasi pada tahun 2019 dengan tahun dasar 2018 yaitu sebesar 7,45%.
Lanjut ke bagian b dan c

b/c. Tingkat keparahan sebuh inflasi itu ada 4 level, yaitu berdasarkan laju inflasi pertahunnya. yaitu:
> Inflasi ringan (< 10%), tingkat inflasi ini masih sangat terkendali, dan efek ke perekonomian itu tidak besar-besar amat, biasanya dengan tingkat inflasi ini juga menunjukkan pertumbuhan ekonomi suatu negara yang baik, karena tingkat harga di pasar itu stabil. Kalau mau tahu, tingkat inflasi Indonesia saat ini masih dalam kategori ringan, rata-rata tiap tahunnya sekitar 8%.

> Inflasi sedang / moderat (10% - 30%), tingkat inflasi ini mungkin akan cukup berdampak ke orang-orang dengan penghasilan tetap, misalnya pns / asn, atau pekerja kantoran, karena dengan tingkat harga yang naik sebesar itu, maka daya beli dari penghasilan yang diterima oleh masyarakat seolah-olah akan turun.

> Inflasi berat ( 30% 100%), tingkat inflasi ini sudah masuk kategori bahaya bagi sebuah negara, karena tingkat harga di pasar itu akan naik signifikan dan akan sulit dikendalikan. Indonesia juga pernah ngalamin, saat krisis 98 dimana nilai rupiah turun drastis, angka inflasi pada waktu itu hingga 77%.

> Inflasi sangat berat / hyperinflation (> 100%), tingkat inflasi ini bisa menunjukkan kondisi krisis perekonomian pada suatu negara, Indonesia pernah ngalamin juga nih, sekitar tahun 1966 saat itu pemerintah melakukan kebijakan pencetakan uang secara besar-besaran, sehingga menyebabkan harga-harga barang ikutan naik.

>>> Jelas ya buat soalnya, dengan tingkat inflasi 7,45% akan masuk ke kategori Inflasi ringan dengan alasan, sesuai tingkat keparahannya yaitu dibawah 10% per tahun.

  • 0 Comments
Analisis rasio keuangan merupakan analisis yang dipakai untuk mengetahui secara cepat kinerja keuangan dari sebuah bank. Berdasarkan analisis dari rasio keuangan, maka akan didapat informasi yang lebih mudah dibaca serta ditafsirkan maknanya daripada jika membaca laporan keuangan, kemudian dapat dengan mudah diketahui bagaimana perkembangan aktivitas operasi dari sebuah perusahaan sebagai akibat dari kinerja (performance) dari manajemen di masa yang lalu.

Terdiri dari beberapa jenis rasio yaitu antara lain:
1) Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio)
Yaitu rasio yang berguna untuk mengetahui kemampuan dari bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya ataupun kewajiban yang sudah jatuh tempo. Salah satu bagian dari rasio ini yaitu LDR (Loan to Deposit Ratio). Ketentuan yang diatur oleh BI bahwa maksimal LDR sebesar 110%.

2) Rasio Rentabilitas
Digunakan untuk mengetahui tingkat efisisensi dari usaha serta profitabilitas yang dicapai oleh bank. Rasio ini juga digunakan untuk mengukur tingkat kesehatan bank. Salah satu rasionya yaitu ROA (Return on Asset).

3) Rasio Capital
Dapat diukur menggunakan CAR (Capital Adequacy Ratio)

4) Rasio Aset
Yaitu rasio untuk mengukur kinerja keuangan dari segi aset melalui aktiva produktifnya.

RASIO KEUANGAN BANK BCA 2019

  • Rasio Keuangan Industri Perbankan 2019
Sumber:  Lap. Profil Industri Perbankan 2019 - OJK
  • Rasio Keuangan BCA 2017-2019
Sumber : Lap. Keuangan Tahunan BCA - 2019

CAR

Rasio CAR tercatat pada akhir tahun 2017 sebesar 23,1% meningkat di 2018 menjadi 23,4% dan sedikit lebih tinggi di 2019 sebesar 23,8%. Menunjukkan Rasio kecukupan modal yang solid, jauh diatas persyaratan minimun yang ditetapkan BI, dan sangat memadai untuk melakukan ekspansi usaha karena diimbangi kemampuan antisipasi resiko. Dibandingkan dengan industry perbankan, rasio CAR dari BCA menunjukkan tingkat rata-rata sejenis dengan indutstri perbankan dikisaran 23%. Secara keseluruhan kondisi CAR BCA menunjukkan tingkat yang sehat.

ROA

Return on Asset (ROA) adalah rasio yang mengukur kemampuan dari perbankan untuk menghasilkan profit/laba dengan membandingkan laba bersih dengan total aset yang dimiliki. Berfungsi untuk melihat keefektifan suatu perbankan dalam mengoptimalkan penggunaan asetnya untuk menghasilkan pendapatan.  

Pada tahun 2017, BCA mencatatkan ROA sebesar 3,9%, mengalami peningkatan tipis di 2018 mencapai 4,0% dengan peningkataan besar di laba bersih tercatat sebesar Rp 25,8 triliun diikuti peningkatan total aset sebesar Rp 824,7 triliun. Di Tahun 2019 ROA stabil di angka 4,0% dimana laba bersih pada tahun 2019 tercatat mengalami pertumbuhan 10,5% sebesar Rp 2,7 triliun dari tahun 2018 diikuti pertumbuhan disisi aset mengalami peningkatan menjadi sebesar Rp 918,9 triliun. Dibandingkan dengan industri perbankan, tingkat Return on Asset Bank BCA masih relatif tinggi dan secara keseluruhan selama tiga tahun tercatat stabil. Ini menunjukkan posisi pengelolaan aset untuk menghasilkan laba yang optimal bagi perusahaan. Secara keseluruhan kinerja ROA BCA menunjukkan tingkat kinerja yang sehat.

ROE

ROE (Return on Equity) adalah rasio profitabilitas yang mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari setiap investasi pemegang saham perusahaan.

Tingkat pengembalian atas ekuitas (Return on Equity-ROE) di tahun 2019  sebesar 18% dengan mencatatkan total ekuitas yang meningkat Rp 22,4 triliun atau mengalami pertumbuhan sebesar 14,8% dibanding tahun 2018. Walaupun mengalami penurunan dibanding 2018 yang tercatat 18,8% dan di 2017 sebesar 19,2%, namun, secara keseluruhan dari tahun 2017 hingga 2019, ROE berada di posisi yang sehat, dimana BCA menjaga keseimbangan antara kebutuhan permodalan bagi pertumbuhan bisnis dan kepentingan para pemegang saham.

LDR

LDR (Loan to Deposit Ratio) adalah rasio yang mengukur kemampuan dari bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Diukur dengan cara membagi total kredit terhadap total DPK atau Dana Pihak ketiga. Jika LDR terlalu tinggi, artinya perbankan tidak mempunyai likuiditas yang cukup untuk menutupi kewajibannya terhadap para nasabah.

Bank BCA dalam 3 tahun terakhir mencatatkan LDR dikisaran 78-80% yang berarti berada masih dalam kondisi sehat, hal ini ditopang dengan pertumbuhan DPK menjadi sebesar Rp 699,0 Triliun pada tahun 2019 atau bertumbuh 11,0% dibanding tahun 2018 yang sebesar Rp 629,8 triliun. Kondisi likuiditas industri perbankan masih cukup ketat dengan posisi LDR di level 94,4% pada akhir tahun 2019. Hal ini memicu sektor perbankan bersaing untuk menghimpun DPK, dimana keberlanjutan aktivitas penerbitan SBN oleh pemerintah dengan tingkat imbal hasil yang lebih menarik. Bank BCA harus tetap menjaga keseimbangan antar penghimpunan serta pendanaan agar tetap dalam kondisi yang sehat.

NIM

NIM (Net Interest Margin) adalah rasio yang mengukur seberapa besar pendapatan bunga bersih dibandingkan dengan aset produktif.

NIM BCA pada tahun 2019 sebesar 6,2% meningkat dibanding tahun 2018 sebesar 6,1%. secara 3 tahun beruntun 2017-2019 memperlihatkan tingkat NIM yang stabil di kisaran 6%. Kondisi ini dipengaruhi oleh tingkat pertumbuhan pendapatan bunga bersih serta aktiva produktif yang mengalami peningkatan stabil dari tahun ke tahun. Dibandingkan dengan industri yang tercatat sebesar 4,9%, NIM BCA masih berada di atas rata-rata tingkat NIM industri,  menunjukkan Bank BCA memiliki kemampuan menghasilkan pendapatan bunga yang baik secara rata rata dibanding industri, dan mampu mengcover profitabilitas perusahaan dengan baik.

NPL 

NPL (Non Perfoming Loan), merupakan perbandingan kredit macet (tidak dapat dikembalikan oleh debitur, dengan total kredit yang disalurkan ke masyarakat. Terbagi menjadi 2, yakni NPL Gross dan NPL Net. NPL Gross membandingkan kredit berkategori kurang lancar, diragukan, dan macet dengan total kredit. Sedangkan NPL Net, membandingkan kredit macet dengan total kredit.

Sejak tahun 2017 hingga 2019, NPL Gross dari BCA menunjukkan tren yang menurun 10 basis poin dari tahun ke tahun. 1,5% di tahun 2017, kemudian turun 1,4% di tahun 2018, kemudian turun lagi di 2019 menjadi sebesar 1,3%. Kondisi ini menunjukkan bahwa NPL Gross dari BCA stabil dan menguat dan bank BCA mampu mengontrol NPLnya pada tingkat yang aman.
NPL Net BCA pada tahun 2017 dan 2018 stabil di angka 0,4% namun mengalami kenaikan sedikit 10 basis poin di tahun 2019 menjadi sebesar 0,5%. Walaupun mengalami kenaikan, NPL Net BCA dapat dikontrol dan masih stabil.

Dibandingkan dengan industri perbankan, NPL Gross dan juga NPL Net BCA menunjukkan kondisi yang sehat dibandingkan dengan NPL Gross industri sebesar 2,50% dan NPL Net industry sebesar 1,16%. Secara rata-rata NPL dari BCA masih cukup jauh dibawah NPL industri dan menunjukkan kondisi yang sehat.

BOPO 

BOPO (Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional), adalah rasio yang menggambarkan efisiensi dari perbankan dalam melakukan operasinya. Semakin besar nilai BOPO, maka semakin inefisien manajemen bank dalam mengelola beban operasionalnya.

Rasio BOPO dari BCA tahun 2017 tercatat sebesar 58,6% kemudian membaik di tahun 2018 sebesar 58,2% turun sebesar 40 bps. Di tahun 2017 rasio BOPO BCA mengalami peningkatan menjadi sebesar 59,1% mengindikasikan beban operasional dari BCA mengalami peningkatan yang lebih besar daripada peningkatan dari pendapatan operasional. Namun begitu, dibandingkan dengan industri perbankan yang sebesar 79,39%, rasio BOPO BCA berada dalam kondisi yang sehat dan masih stabil terjaga di kisaran 58-59%.

  • 0 Comments
Postingan Lebih Baru Beranda

Berlangganan

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Pinterest
  • RSS

Berlangganan Newsletter

Where we are now

o

Follow Us

  • pinterest
  • instagram
  • facebook

Recent Posts

instagram

Template Created By : ThemeXpose Used BY: www.yohanesleonardus.site

Back to the top